Gunung Wayang – Mitos dibalik Indahnya Pemandangan

Nama Pantai Selong Belanak sudah tidak asing lagi dalam jajaran destinasi wisata di Pulau Lombok. Pantai ini merupakan satu dari sekian banyak pantai di sana sekaligus menjadi yang paling populer. Dengan garis pantai yang membentang sepanjang 1 km memberikan ruang yang luas untuk wisatawan bermain pasir maupun air. Tapi tahukah kamu jika salah satu bagian pantai ini memiliki mitos kutukan yang mengerikan?. Kalau kamu sedang berada di Pantai Selong Belanak terlihat sebuah pulau kecil berbentuk segitiga di hadapanmu. Pulau ini oleh warga setempat diberi nama Pulau Gunung Wayang yang merujuk pada bentuknya yang seperti gunung berbentuk segitiga persis seperti gunungan yang ada di pementasan wayang kulit.

Pulau gunung wayang

Pulau gunung wayang

Keberadaan gunung ini selain mempercantik lanskap pantai Selong Belanak juga menyimpan misteri. Pulau Gunung Wayang yang terlihat dari pesisir pantai sangat disakralkan oleh Suku Sasak yang merupakan penduduk asli di kawasan tersebut. Orang atau wisatawan dilarang seenaknya mengunjungi pulau ini tanpa meminta izin pemangku adat terlebih dahulu. Ganjaran bagi mereka yang nekad datang ke Pulau Gunung Wayang adalah kematian. Bukan karena hukuman mati tapi lebih pada mitos kutukan yang mengerikan. Jadi siapa saja yang datang ke sana tanpa izin konon akan mendapatkan kutukan kematian. Warga setempat turut mengamini mitos ini dengan mengatakan bahwa pernah ada bule yang nekad ke sana dan akhirnya mendapatkan nasib nahas hingga akhirnya meninggal.

Satu-satunya cara mendatangi Pulau Gunung Wayang dengan aman adalah dengan minta izin pada pemangku adat Suku Sasak yang bernama Amaq Salmah. Ia akan membuat semacam ritual khusus terlebih dahulu sebagai upaya memintakan izin pada penunggu pulau sebelum akhirnya mengantar wisatawan menuju ke pulau. Terlepas dari benar tidaknya mitos kutukan ini yang pasti dengan adanya mitos seperti itu akan menambah daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke sana. Bisa jadi ini adalah salah satu bentuk kearifan lokal mengenai konservasi alam agar kawasan tersebut tidak tereksploitasi berlebihan sehingga kelestariannya tetap terjaga. Kita sebagai wisatawan wajib hukumnya untuk menghormati dan selalu berlaku sopan terhadap kearifan lokal di setiap destinasi wisata. Dengan begitu hal-hal yang tidak diharapkan akan menjauh dari kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *